
PADANG – Bencana banjir bandang yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), pada akhir November 2025 menyisakan duka mendalam bagi warga Batang Kabung, Kecamatan Koto Tangah. Puluhan sekolah dari berbagai jenjang nyaris lenyap terseret arus dan menyisakan cerita pilu serta keteguhan hati para guru.
Kisah pilu disampaikan Suryani, guru kelas V SDN 49 Batang Kabung, Kecamatan Koto Tangah, Padang. Ia masih mengingat jelas detik-detik awal bencana. Pada 26 November 2025, sekira pukul 00.30 WIB, ia menerima telepon dari rekan guru yang mengabarkan air telah masuk ke lingkungan sekolah.
“Hari itu sebenarnya kami mau ke sekolah, tapi anak-anak dan warga melarang karena di sekitar rumah sudah banjir,” ujar Suryani saat ditemui.
Meski akses jalan terhambat dan jembatan penghubung menuju kawasan Koto Tuo dilaporkan mulai goyah, Suryani tetap berusaha mendatangi sekolah. Sekitar pukul 10.30 WIB, ia tiba di lokasi, namun pemandangan yang terlihat membuat hatinya terenyuh.
“Perpustakaan sudah hanyut, ruang kelas tiga juga sudah tidak ada. Kami hanya sempat menyelamatkan beberapa buku dan data yang masih bisa diambil,” tuturnya.
Tak lama berselang, guru-guru diminta segera meninggalkan area sekolah karena kondisi bangunan dinilai berbahaya dan berpotensi runtuh. Beberapa ruang kelas baru yang belum lama digunakan pun akhirnya ikut hilang diterjang banjir.
Keesokan harinya, Jumat, 27 November 2025, kabar yang lebih memilukan kembali datang. Penjaga sekolah mengabarkan bahwa gedung tempat kegiatan belajar mengajar tersebut telah habis tersapu arus.
“Kami kembali ke lokasi, tapi yang terlihat hanya aliran sungai. Tidak ada puing bangunan sekolah sama sekali. Bahkan rumah beberapa murid kami di sekitar situ juga hanyut,” kenang Suryani dengan suara bergetar.
Di tengah keterpurukan, proses belajar mengajar tak sepenuhnya berhenti. Bersama Plt Kepala Sekolah, para guru berinisiatif memindahkan kegiatan belajar ke SDN 47 Kota Tuo, meski harus menempuh jarak lebih jauh dan biaya tambahan bagi orang tua murid.
“Kami bilang ke anak-anak, jangan putus asa. Kalau berhenti sekolah, bagaimana naik kelas nanti? Nilai kalian bagaimana?” kata Suryani.
Sebagian murid mengikuti pembelajaran secara daring, sebagian lainnya tetap datang ke sekolah pengganti. Menjelang ujian, kegiatan belajar kembali berpindah ke SD Islam Terpadu Buah Hati yang bersedia menampung sementara hingga pembagian rapor.
Meski fasilitas belajar sangat terbatas karena buku dan alat pembelajaran hanyut, para guru memilih fokus pada pemulihan semangat anak-anak. Materi pelajaran diulang dari dasar agar murid kembali mengingat pelajaran sebelumnya sebelum melanjutkan ke semester berikutnya.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.
Kemendikdasmen melakukan rehabilitasi sekolah, membangun sekolah dengan tenda darurat, mengirim school kit, memberikan bantuan uang, dan bantuan lainnya.
“Alhamdulillah sekarang anak-anak sudah dapat bantuan. Buku, alat tulis, sepatu, semuanya ada. Tinggal semangat belajarnya yang terus kita jaga,” ujarnya.
Menurut Suryani, dalam suasana bencana, tidak ada metode khusus yang rumit. Pendekatan emosional menjadi kunci. Guru-guru berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman tanpa tekanan.
“Kami tidak marah-marah. Yang penting anak-anak tidak drop. Mereka sudah kena musibah, jangan ditambah beban,” katanya.
Kini, rencana relokasi sekolah sudah mulai dibahas. Kemendikdasmen melakukan percepatan rehabilitasi dengan meninjau lokasi baru di fasilitas umum yang berada tak jauh dari sekolah lama. Harapan guru dan murid sederhana, sekolah baru segera dibangun agar murid bisa belajar di tempat yang aman dan layak.
“Semoga cepat dibangun, supaya anak-anak bisa belajar dengan nyaman di tempat yang permanen. Jangan patah semangat. Walaupun sekolah hanyut, walaupun kondisi sulit, kita harus tetap bangkit. Kita punya tanggung jawab memajukan anak-anak supaya cita-cita mereka tetap tercapai,” tutupnya.

